Bakteri Ekstrim Archaebacteria

17 Mei 2013

Bakteri Ekstrim Archaebacteria

Merupakan kerajaan atau kingdom yang terdiri dari mikroorganisme prokariotik namun berbeda dari Eubacteria. Archaebacteria memiliki struktur, sifat, susunan, metabolisme, asam nukleat, dan habitat yang berbeda sehingga dapat dipisahkan dari kingdom Eubacteria.

Archaebacteria tidak memiliki peptidoglikan pada dinding selnya dan juga mengandung lipid gliserol-eter pada membrannya. Susunan inilah yang menyebabkan Archaebacteria dapat hidup dalam lingkungan yang sangat ekstrim. Archaebacteria diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan habitatnya yaitu.

1. Metanogen
Adalah kelompok dari Archaebacteria yang berhabitat di daerah yang memiliki konsentrasi metana, gas hidorgen, karbon dioksida, dan asam asetat yang sangat tinggi. Beberapa gas tersebut digunakan bakteri dalam kelompok ini untuk bermetabolisme. Contoh dari kelompok metanogen adalah Methanobacterium.

2. Halofil
Adalah kelompok dari Archaebacteria yang berhabitat di daerah yang memiliki kadar garam yang tinggi. Mayoritas bakteri halofil dapat hidup pada lingkungan yang berkadar garam mencapai 20%. Bahkan ada beberapa spesies yang mampu hidup pada lingkungan yang memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut. Contoh dari bakteri halofil adalah salah satunya Halobacterium.

3. Thermoasidofil
Adalah kelompok dari Archaebacteria yang hidup dilingkungan ekstrim sangat panas dan juga sangat asam. Bakteri kelompok Thermoasidofil memiliki keadaan optimum dengan lingkungan bersuhu 60 – 90 °C dan pH 2 – 4. Kita dapat dengan mudah menemukan bakteri ini di daerah kawah vulkanik yang banyak mengandung asam sulfat. Contoh dari bakteri Thermoasidofil adalah Thermoplasma.

Bagikan

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More